Semua Informasi Untuk Anda

Pesan di Balik Surah Thaha Ayat 132

SURAH THAHA AYAT 132


A.    Pendahuluan
         Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua semoga rahmat, taufik, hidayah serta inayah-Nya senantiasa tercurahkan dari-Nya kepada kita.
         Sholawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita dan menghantarkan kita dari zaman Jahiliyyah menuju zaman Islamiyyah, semoga kitasemua kelak mendapat syafa’atnya, Amin.

B.     Pembahasan

         Pada ayat 132 ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw agar menyeru kepada keluarganya untuk melaksanakan sholat, sebagaimana perintah mendirikan sholat kepada dirinya sendiri. Pelaksanaan perintah Allah ini sekaligus merupakan wujud nyata dari tanggung jawab seseorang terhadap keluarganya agar tidak menjadi umat yang lemah, sehingga dapat diselamatkan dari siksa api neraka.
         Dalam sebuah keluarga, melaksanakan ibadah sholat atau beribadah merupakan salah satu bentuk pendidikan moral dan agama yang wajib dilakukan oleh setiap keluarga, terutama orang tua kepada anak-anaknya. Begitu juga dalam sholat dan beribadah, orang tua wajib mendidik dan mengajarkan bagaimana agar anak sholat dan beribadah dengan baik dan tepat waktu. Berikut akan dibahas bagaimana agar anak rajin sholat dan beribadah :

1.      Orang Tua Menjadi Contoh Dan Keteladanan Dalam Sholat
Orang tua ibarat cermin buat anak-anaknya, semakin bagus cermin yang dimilikinya semakin bagus bentuk dan rupa yang terlihat oleh anak-anak itu sendiri dan juga orang lain. Namun semakin jelek atau buram cermin yang digunakan oleh sang anak maka anak tidak akan mudah melihat siapa dirinya. Oleh karena itu jika perilaku orang tua baik maka baik pula tingkah laku sang anak. Begitu juga dalam ibadah, jika orang tua rajin dalam melaksanakan ibadah sholat maka anak juga akan mudah mengikutinya.

2.      Nasehat Dalam Didikan Bukan Dengan Amarah
Apa yang Anda lakukan ketika anak melakukan kesalahan kecil seperti salah meletakkan benda pada tempatnya? Memarahi atau membiarkan? Mungkin sebagian besar akan membiarkan namun bagaimana kalau anak diberi nasehat yang baik dengan mengajarkan perilaku yang baik? Begitu juga dalam melaksanakan sholat, biasakan anak untuk menyelesaikan rangkaian sholat sampai selesai termasuk dzikir dan doan dan jangan biasakan langsung meninggalkan sholat tanpa dzikir dan doa. Dengan begitu anak akan tetap terbiasa menyelesaikan sholatnya sampai selesai.

3.      Hukuman Ketika Anak Tidak Sholat
Bolehkah menghukum anak yang tidak mau sholat? Boleh, jika anak sudah masuk masa baghlig dan memberikan hukuman yang mendidik. Seperti apa hukuman yang mendidik tersebut? Hukuman yang berhubungan dengan apa yang dilanggar oleh sang anak. Misalnya ketika sholat bersama ternyata sholat si anak terburu-buru atau lebih cepat dari yang imam maka hukuman yang diberikan adalah dengan membaca istighfar atau lalai dalam sholat karena terlalu asyik dengan permainannya maka hukumannya dengan memberikan larangan agar tidak bermain selama 3 hari. Dengan memberikan hukuman ini diharapkan si anak tetap rajin dalam ibadah. Jika hukuman tidak bisa membuat anak jera, maka porsi hukumannya bisa ditingkatkan. Misalkan melanggar tidak sholat maka tidak boleh main selama satu minggu. Yang penting dalam memberikan hukuman yang pernah menyakiti diri sang anak

Kembali pada makna ayat 132 diatas, Allah juga memerintahkan nabi Muhammad SAW agar selalu berlaku sabar dalam setiap urusan. Sabar artinya menahan diri dari keluhan. Seorang bijak mengatakan sabar yakni melawan nafsu amarah yang mengajak pada keburukan, agar tidak pada kesenangan-kesenangan yang berdampak buruk. Rasulullah SAW bersabda :”sabar itu ada tiga hal, yaitu sabar dalam cobaan, sabar dalam keataatan, dan sabar dari kemaksiatan.

Dalam rumah tangga kesabaran dalam menghadapi segala permasalahan rumah tangga sangat diperlukan, antara lain. Pertama, kesabaran dalam berinteraksi dengan pasangan yang terkadang tidak seide, beda karakter, dll. Kedua, kesabaran dalam mengatur rumah tangga, baik itu dalam hal kebersihan, makanan, masalah ekonomi, dll. Ketiga, kesabaran dalam menghadapi anak-anak yang cenderung aktif dan kritis.

Orang tua harus bisa membuat rumah senyaman mungkin, sehingga kedamaian dalam keluarga tetap terjaga dengan saling menghargai dan menghormati diantara anggota keluarga. Kesabaran orang tua akan sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak hingga dewasa.  Anak yang dididik dengan baik akan menjadi pribadi yang santun. Anak-anak adalah peniru terbaik, mereka bercermin dari perilaku orangtuanya. Syeikh ibrahim Amini berkata :“bila orang tua mampu mempertahankan nafsu amarah pada tingkat menengah (moderat) dalam segala urusannya, niscaya sang anak akan mempelajari dan megikutinya.

Begitupun, bila orang tua mudah terbawa emosi dan amarah maka anak-anak mengikuti sifat tersebut. Anak-anak yang gampang tersinggung dan menjadi marah, hanya karena alasan-alasan sepele, sebab mereka tidak memiliki kepribadian yang kuat. Maka cenderung tak tahan dengan sesuatu yang tak diinginkan, dan mudah terpengaruh gangguan kecil sekalipun dan marah. Ali bin Abi Thalib berkata : “berhati-hatilah terhadap kemarahan, kalau tidak ia akan menguasaimu dan menjadi sebuah kebiasaan”.

Setiap orang tua harus mampu belajar amarah dan menahan emosi dalam menghadapi anak, karena mereka sebenarnya belum mengerti dan memahami banyak hal. Orangtualah yang harus mengajar dan mendidik mereka, serta memberikan contoh yang baik. Orang tua seharusnya menjadi contoh yang baik dalam hal mengendalikan emosi dan nafsu amarah, jika tidak maka akan memberikan efek negatif terhadap anak.  Rasulullah bersabda: “kemarahan menghancurkan kebajikan seseorang sebagaimana cuka menghancurkan madu yang baik. Bila susah pengaplikasiannya, perbanyak berdzikir, misalnya dengan istigfar.

Oleh karena itu,  menjadi orang tua yang punya peran penting dalam mendidik dan mengajarkan anak harus menjadi salah satu fokusan dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, kesabaran dan kebijaksanaan dalam mendidik anak akan membawa pengaruh besar terhadap pribadi anak, termasuk cara anak bersikap dan berinteraksi, baik itu dilingkungan keluarga maupun masyarakat luas.
C.     Kesimpulan
Jadi, makna yang terkandung dari surah thaha ayat 132 adalah perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada orang tua untuk bertanggung jawab membimbing semua anggota keluarganya agar dapat membiasakan diri dalam beribadah kepada-Nya dan lebih bersabat dalam segala urusan terutama dalam tiga hal, yaitu sabar dalam cobaan, sabar dalam ketaatan, serta sabar dalam kemaksiatan
D.    Penutup

Demikian hasil diskusi kami, jika ada kesalahan atau kekeliruan mohon dimaafkan, dan bisa memberitahukan kesalahan tersebut kepada kami. Terima kasih.
Back To Top